Selamat Datang

Selamat datang di blog saya, setelah sekian lama saya tinggalkan, rasanya rindu sekali untuk berbagi pengalaman dan berbagi ilmu.

Sudah 6 bulan lebih saya tidak aktif di blog, itu di karenakan kesibukan saya kerja, kuliah, dan berjualan online/offline. Sekarang saatnya saya berbagi dengan teman - teman.

Disini saya menambahkan produk - produk yang saya jual, semoga produk yang saya jual ini bisa memenuhi keinginan anda, yang mungkin anda sebelumnya belum pernah anda temukan

Rugi kalau tidak berkunjung ke Link ini

  1. Peluang Usaha Es Cream MR COOL dan CAPINOS
  2. Simpan dan download file dengan KewlShare dapet duit
  3. Cara mudah menyimpan data dengan Ziddu
  4. Solusi mendapatkan Penghasilan
  5. Bisnis Pulsa
  6. Wirausaha Online modal Rp. 0,-
  7. Cari Jodoh???
  8. Jual Mobil
  9. Menjual Properti
  10. Hp sebagai mesin pencari uang
Selamat berbelanja ....... Salam Sukses

bisnis online Pusat Produk Bisnis Online Toko Baju bali Online1111

Selasa, Maret 10, 2009

Ogoh - ogoh


Salah satu keunikan dibali pada saat pengerupukan ( sehari sebelum puncak hari raya nyepi ) adalah, pawai ogoh ogoh.

Pengerupukan adalah sebuah aktivitas untuk mengusir bhutakala (setan). Umumnya umat Hindu di Bali melakukan prosesi ini dengan cara memukul berbagai alat yg bisa mengeluarkan bunyi berkeliling rumah sambil membawa api. Biasanya sih dipakai kaleng-kaleng bekas. Suara gaduh yg ditimbulkan akan mengundang para bhutakala untuk berkumpul karena dipikirnya ada pesta. Saat itulah kita akan membakarnya dgn api yg sudah disiapkan dari daun kelapa yg kering. Sebenarnya prosesi ini memiki makna membakar semua nafsu jahat yg ada pada diri manusia sehingga pada saat Nyepi kita bisa lahir kembali menjadi manusia yg suci dan baik.

CUPLIKAN OGOH OGOH 2008 DI KUTA


Ogoh-ogoh sendiri mulai diperkenalkan sekitar th 1993.Entah darimana inspirasinya, secara spontan anak-anak muda di Denpasar mulai membuat sebuah patung besar berbentuk binatang dari rangkaian bambu yg dihias, kemudian diarak keliling desa saat pengerupukan. Mendapat sambutan yg positif dari masyarakat luas, ogoh-ogoh pun berkembang dari tahun ketahun. Design ogoh-ogoh yg dulunya binatang, kini sudah berkembang menjadi bentuk raksasa, tokoh pewayangan, sampai tokoh kartun & pemain bola. Nilai artistiknya-pun tidak main-main, benar-benar bagus (seniman Bali gitu loh). Akhirnya mulai th 1998 ogoh-ogoh diperlombakan. Ironisnya, hadiah bagi pemenangnya cuman 1.5juta tidak sebanding dgn biaya membuat ogoh-ogh yg mencapai puluhan juta. Tapi semangat anak-anak muda Bali untuk berkarya tidak pernah pudar.



BERGBAGAI MACAM OGOH OGOH
Ogoh Ogoh Pictures, Images and Photos

Ogoh Ogoh Pictures, Images and Photos

Ogoh Ogoh Pictures, Images and Photos

My Awesome Photos Pictures, Images and Photos

My Awesome Photos Pictures, Images and Photos

Og-Og-04 Pictures, Images and Photos

Dan masih banyak lagi yang lainnya


Makna Etika Upacara Nyepi Untuk Pengendalian Diri


Agama Hindu untuk umat manusia yang menganut ajaran pustaka Suci Weda yang diwahyukan oleh Sang Hyang Widhi, Agama Hindu juga mempunyai kerangka yang terdiri dari Tatwa (filsafat), Susila (etika), dan Upacara (ritual). Ketiga hal tersebut merupakan suatu kesatuan yang utuh tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya. Filsafat, etika dan upacara harus dipahami, dihayati, dan dilaksanakan agar tujuan agama Hindu bisa tercapai. Tujuan agama Hindu itu tiada lain, untuk mencapai kedamaian rohani dan kesejahteraan hidup jasmani. Dalam pustaka suci disebut dengan Moksartham Jagadhitaya Ca iti Dharma yang artinya dharma (agama) untuk mencapai moksa dan mencapai kesejahteraan hidup, moksa juga disebut juga mukti yang artinya mencapai kebebasan jiwatman atau kebahagiaan rohani yang langgeng (Upadesa: 2001, 5).

Bertitik tolak dari pengertian di atas semua tatanan hari raya agama Hindu mempunyai filsafat/makna, hari raya tersebut juga mempunyai etika dan juga upacara sebagai perwujudan filsafat tersebut. Dalam teori tindakan yang mengatakan bahwa nilai luhur menata sikap prilaku masyarakat, kalau dioperasional teori tersebut untuk membedah suatu hari raya Hindu, khususnya hari raya Nyepi juga mempunyai filsafat sebagai acuan untuk melaksanakan upacara penyepian dan punya etika (susila) sebagai pedoman yang baku untuk melaksanakan upacara penyepian. Hal tersebut berarti merupakan tatanan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam suatu hari raya Hindu termasuk hari raya Nyepi.

Hari raya Nyepi salah satu hari raya besar umat Hindu di Bali, filsafat (tattwa) dan susila (etika) yang menjadi acuan semua upacara hari raya Hindu di Bali. Nilai-nilai budaya Hindu yang diakui di dalam upacara yadnya termasuk upacara yadnya pada hari raya Nyepi merupakan suatu kekuatan spiritual yang dapat membentuk jati diri umat; sebagai wahana pengendalian diri dan dapat sebagai penguat integrasi umat manusia dalam arti yang sangat universal.

Hari raya Nyepi sebagai hari raya umat Hindu yang merupakan puncak identitas umat Hindu karena hari raya suci ini satu-satunya yang diakui sebagai hari libur nasional yang dimulai tahun 1983.

Hari raya Nyepi jatuh dalam satu tahun sekali tepatnya pada tahun baru saka. Pada saat itu matahari menuju garis lintang utara, saat Uttarayana yang disebut juga Devayana yakin waktu yang baik untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Menurut lontar Sang Hyang Aji Swamandala yang menyatakan bahwa, Tawur (upacara) Bhuta Yadnya atau Tawur Kesanga sebaiknya diadakan pada tilem bulan Chaitra (Tilem Kesanga), sehari sebelum hari raya Nyepi dirayakan. Menurut tradisi yang berlaku di Bali, tata urut upacara Nyepi diawali dengan melasti ke Segara (laut), Ida Bhatara melinggih di Bale Agung (Pura Desa) selanjutnya dilangsungkan upacara Bhuta Yadnya (tawur Kesanga), Nyepi, dan sehari setelah hari raya Nyepi disebut Ngembak Geni. Tujuan dilaksanakan upacara Hari Raya Nyepi adalah dapat dilihat dari berbagai aspek-aspek sebagai berikut:

1. Aspek religius merupakan suatu proses penyucian bhuwana Agung dan Bhuwana Alit (Makrokosmos dan mikrokosmos) untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan lahir bathin (jagadhita dan moksa) terbina kehidupan yang berlandaskan Satyam (kebenaran), Siwam (kesucian), Sundaram (keharmonisan, keindahan).
2. Membiasakan diri untuk melakukan tapa, yoga dan semadi bagi masing-masing pribadi umat, ini mengandung makna evaluasi perbuatan dalam setahun dan juga sebagai pengendalian diri.
3. Aspek sosial budaya merupakan wahana untuk integrasi umat, hal itu terlihat pada saat umat Hindu bersama-sama ngiring Ida Bhatara dari awal yaitu dari pura masing-masing terus nyejer di Bale Agung dan lanjut ngiring melasti. Disini nampak kekompakan masyarakat ngiring bersama-sama.

Dalam prosesi upacara diatas sudah nampak jelas tata susila (etika upacara) menata pelaksanaan seluruh proses tersebut. Berikut ini fokus bahasan pada tulisan singkat ini “Makna etika Hari Raya Nyepi bagi Pengendalian Diri” umat Hindu maupun umat lainnya.

Makna Etika Hari Raya Nyepi untuk Pengendalian Diri
Berdasarkan uraian di atas hari raya Nyepi yang datang setahun sekali yang merupakan identitas umat Hindu. Pada saat itu umat Hindu khususnya diajarkan untuk dapat melihat diri baik dan buruknya kerja yang dilakukan seseorang. Dalam Pustaka Suci disebutkan sebagai berikut : “Manusia lahir sendiri, sendiri juga ia akan mati, sendiri ia menikmati perbuatan yang baik, sendiri pula menikmati perbuatan yang buruk (Manawa Dharma Sastra,
IV. 240).

Mengacu pada isi sloka di atas yang mengandung makna, baik buruk kerja yang dilakukan oleh seseorang akan membentuk nilai pribadmnya. Weda menegaskan bahwa melalui kerja yang baik (subhakarma) manusia akan dapat menolong dirinya sendiri dan samsara untuk mencapai kebahagiaan abadi yang bebas dan proses kelahiran kembali (moksa).

Moksa merupakan moral-religius bagi umat Hindu untuk melaksanakan kerja yang baik (Subhakarma) dan menghindarkan perbuatan yang buruk (Asubhakarma) dalam kehidupan di dunia ini (Gabde; 2000).

Pada ajaran suci ada juga menyebutkan untuk memahami makna di atas yang dianalisis dan mantram di bawah ini yaitu : “Hyang Widhi hanya menyayangi orang yang bekerja keras” Reg Weda, IV, 33, 11). Mantram tersebut menyatakan bahwa Hyang Widhi menyayangi orang yang mau bekerja keras. Maka manusia yang ingin mendapatkan berkah dari Hyang Widhi Wasa harus bekerja keras sepanjang hidup ini.

Memaknai Hari R.aya Nyepi sebagai Pengendalian Diri
Seperti telah dijelaskan diatas, hari raya Nyepi merupakan peristiwa peralihan tahun icaka, pada saat itu masyarakat diharapkan merenung (mulat sarira) untuk melihat mana perbuatan baik dan mana yang buruk selama kurun waktu setahun. Menurut etika hari raya Nyepi hal tersebut teimplisit dalam catur Berata Penyepian adalah empat pedoman yang telah ditetapkan dan harus dilaksanakan oleh umat Hindu sebagai wujud pengendalian diri dan mawas diri dengan empat pedoman : amati Geni, amati Lelanguan, Amati karya, dan Amati lelungaan. Pelaksanaan keempat etika diatas mengandung makna sebagai berikut:

1. Amati Geni
Amati geni mempunyai makna ganda yaitu tidak melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan menghidupkan api. Disamping itu juga merupakan upaya mengendalikan sikap prilaku agar tidak dipengaruhi oleh api amarah (kroda) dan loba (serakah). Menurut Tattwa Hindu (filsafat) yang memaknai simbol Geni tidak disimbolkan sebagai kekuatan dewa Brahma yang sebagai pencipta. Penciptaan yang terkait dengan hasil pemikiran seseorang disini perlunya diadakan perenungan, apakah kita sudah menghasilkan pemikiran untuk kebaikan umat ataukah sebaliknya. Pernyataan tersebut terungkap dalam berbagai Pustaka Suci Hindu yang mengatakan bahwa “Keunggulan manusia sebagai mahiuk ciptaan Tuhan, terletak pada proses pemikiran seseorang yang dapat membedakan sikap prilaku yang baik dan buruk (Sarasamuscaya : sloka 82). Alat kendali proses berpikir yang paling utama menurut ajaran Hindu adalah keyakinan terhadap karma phala (Sarasamuscaya, sloka 74). Mengacu pada etika Berata Penyepian di atas sudah nampakpelaksanaan amati Geni merupakan suatu simbol pengendalian diri seseorang dalam bersikap dan berprilaku.

2. Amati Lelanguan
Amati Lelanguan yang dimaksud merupakan kegiatan seseorang untuk mulat sarira atau rnawas diri terhadap kegiatan yang berkaitan dengan wacika. Wacika adalah perkataan yang benar yang dalam beriteraksi dengan sesamanya maupun dengan Tuhan sudah dilaksanakan atau belum. Menurut tattwa Hindu dalam pustaka suci yang terungkap dalam Sarasamuscaya dan Kekawin nitisastra mengajarkan sebagai berikut :
(1) kata-kata menyebabkan sukses dalam hidup;
(2) kata-kata menyebabkan orang gagal dalam hidup;
(3) kata-kata menyebabkan orang mendapat hasil sebagai sumbu kehidupan; dan
(4) kata-kata menyebabkan orang memiliki relasi. Mengacu pada pemikiran diatas manusia Hindu telah diajarkan agar tetap melaksanakan wacika yang diparisudha yang antinya:
(a) proses interaksi sosial (komunikasi) tidak boleh berkata kasar,
(b) mencaci maki dan juga tidak boleh menyebabkan orang tersinggung dan menderita (Sarasamuscaya; Sloka 75),

Uraian di atas memberikan kita suatu pelajaran bahwa perkataan (wacika) yang diparisudha itulah yang patut dipahami dan menata sikap prilaku seseorang agar hidup ini aman dan bahagia.

3. Amati Karya
Amati Karya sebagai etika Nyepi yang bermaknakan sebagai evoluasi diri dalam kaitan dengan karya (kerja) merenung hasil kerja dalam setahun dan sebelumnya sudahkah bermanfaat bagi kehidupan manusia. Aktualisasi amati karya dalam konteks hari raya merupakan perenungan pikiran yang religius yang mengajarkan umat Hindu dalam evaluasi hasil kerja sebagai berikut, yaitu sisihkan hasil kerja untuk yadnya,
- untuk Hyang Widhi,
- untuk Resi,
- untuk Leluhur maupun
- untuk budhi.
Hal tersebut tertera dalam pustaka suci Atharwa weda III.24. 5 dan Sarasamuscaya Sloka 262, yadnya itu juga merupakan implementasi dari ajaran Tri Rna. Diajarkan pula melalui yadnya dapat terjadi proses penyucian diri manusia baik secara rohani maupun jasmani.

Amati karya bermakna ganda yang artinya tidak bekerja dan dimaknai sebagai kesempatan untuk mengevaluasi kerja kita apakah aktivitas kerja itu sudah berlandaskan dharma atau sebaliknya. Kerja yang baik (subha karma) dapat menolong manusia untuk menolong dirinya dari penderitaan. Kerja juga menyebabkan terjadinya Jagadhita dan merupakan tabungan moral bagi umat Hindu agar bekerja lebih gigih, tekun dan produktif. Berdasarkan uraian diatas ajaran suci Hindu memandang bahwa kerja sebagai yadnya dan titah Hyang Widhi; kerja dapat menolong diri sendiri dan kerja dapat menentukan identitasnya Aku bekerja, maka aku ada demikianlah yang diamanatkan oleh umat Hindu.

4. Amati Lelungaan
Amati lelungaan merupakan salah satu dari empat berata Penyepian yang berfungsi sebagai evaluasi diri dan sebagai sumber pengendalian diri. Amati lelungaan berarti menghentikan bepergian ke luar rumah, maka pada saat hari raya Nyepi, jalan raya sangat sepi. Dalam konteks yang lebih luas hal itu berarti suatu evaluasi diri. Evaluasi kerja hubungan dengan Tuhan; evaluasi kerja hubungan dengan sesama dan hubungan kerja dengan alam sekitar apakah hubungan tersebut sudah baik atau belum, sehingga kita dapat menilai hasil kerja kita se-obyektif mungkin. Mutu meningkat untuk kebaikan atau merosot, langkah selanjutnya bisa menentukan sikap. Diharapkan agar lebih memantapkan kualitas kerja untuk kualitas hidup manusia.

Simpulan
Berdasarkan uraian diatas, pembahasan mengenai Makna Etika Upacara Nyepi bagi Pengendalian Diri adalah sebagai berikut:

1). Hari raya Nyepi merupakan salah satu hari raya yang dapat digunakan sebagai penentu jati diri umat Hindu karena hanya hari raya inilah yang diikuti oleh pemerintah.
2). Catur Berata penyepian merupakan etika hari raya Nyepi yang dapat digunakan sebagai evaluasi diri ataupun pengendalian diri.
3). Aspek theologi hari raya Nyepi menupakan pengejawantahan dari moral religius umat Hindu yang mampu.
4). Catur Berata penyepian merupakan perenungan untuk evaluasi kerja kita minimal setahun dan mampu untuk pengendalian pikiran dan pengendalian diri.
5). Kemampuan untuk pengendalian diri berarti perlu suatu jalan untuk dapat mengatasi permasalahan hidup, jalan untuk penyucian manacika, wacika, dan kayika akhirnya mampu mewujudkan ”Jagadhita ya ca iti dharma.”•WHD. No. 482 Maret 2007.


Makna Etika Upacara Nyepi
Untuk Pengendalian Diri
Oleh: S. Swarsi Geria, Gianyar
(sumber : http://www.parisada.org/)


Makna Hari Raya Galungan dan Kuningan


Galungan adalah hari raya suci Hindu yang jatuh pada Buda Kliwon Dungulan berdasarkan hitungan waktu bertemu sapta wara dan panca wara. Umat Hindu dengan penuh rasa bhakti melaksanakan rangkaian hari raya suci Galungan dan Kuningan dengan ritual keagamaan. [ Oleh : I Nyoman Dayuh, (UNHI - Dps)]

Menurut lontar Purana Bali Dwipa disebutkan :

"Punang aci galungan ika ngawit bu, ka, dungulan sasih kacatur tanggal 25, isaka 804, bangun indra bhuwana ikang bali rajya".


Artinya:

"Perayaan hari raya suci Galungan pertama adalah pada hari Rabu Kliwon, wuku Dungulan sasih kapat tanggal 15 (purnama) tahun 804 saka, keadaan pulau Bali bagaikan lndra Loka".

Mulai tahun saka inilah hari raya Galungan terus dilaksanakan, kemudian tiba-tiba Galungan berhenti dirayakan entah dasar apa pertimbangannya, itu terjadi pada tahun 1103 saka saat Raja Sri Eka Jaya memegang tampuk pemerintahan sampai dengan pemerintahan Raja Sri Dhanadi tahun 1126 saka Galungan tidak dirayakan. Dan akhirnya Galungan baru dirayakan kembali pada saat Raja Sri Jaya Kasunu memerintah, merasa heran kenapa raja dan para pejabat yang memerintah sebelumnya selalu berumur pendek. Untuk mengetahui sebabnya beliau bersemedi dan mendapatkan pawisik dari Dewi Durgha menjelaskan pada raja, leluhumya selalu berumur pendek karena tidak merayakan Galungan, oleh karena itu Dewi Durgha meminta kembali agar Galungan dirayakan kembali sesuai dengan tradisi yang berlaku dan memasang penjor.

Macam - Macam Galungan

A. Galungan

Di dalam lontar Sundarigama menyebutkan pada Buda Kliwon wuku Dungulan disebut hari raya Galungan.

B. Galungan Nadi

Apabila Galungan jatuh pada bulan Purnama disebut Galungan Nadi, umat Hindu melaksanakan tingkatan upacara yang lebih utama. Berdasarkan Lontar Purana Bali Dwipa bahwa Galungan jatuh pada sasih kapat (kartika) tanggal 15 (purnama) tahun 804 saka Bali bagaikan lndra Loka ini menandakan betapa meriahnya dan sucinya hari raya itu.

C. Galungan Naramangsa.

Dalam Lontar Sanghyang Aji Swamandala mengenai Galungan Naramangsa disebutkan apabila Galungan jatuh pada Tilem Kapitu dan sasih Kasanga rah 9, tengek 9, tidak dibenarkan merayakan hari raya Galungan dan menghaturkan sesajen berisi tumpeng seyogyanya umat mengadakan caru berisi nasi cacahan dicampur ubi keladi, bila melanggar akan diserbu oleh Balagadabah.

Rangkaian Hari Raya Galungan dan Kuningan

Persiapan perayan hari raya Galungan dimulai sejak Tumpek Wariga disebut juga Tumpek Bubuh, pada hari ini umat memohon kehadapan Sanghyang Sangkara, Dewanya tumbuh tumbuhan agar Beliau menganugrahkan supaya hasil pertanian meningkat. Setelah itu wrespati Sungsang adalah hari Sugihan Jawa merupakan pensucian bhuwana agung dilaksanakan dengan menghaturkan pesucian mererebu di Merajan, pekarangan, rumah serta menyucikan alat-alat untuk hari raya Galungan. Besoknya Sukra Kliwon Sungsang disebut hari Sugihan Bali, pada hari ini kita melaksanakan penyucian bhuwana alit, mengheningkan pikiran agar hening, heneng dan metirta gocara. Selanjutnya Redite Paing Dungulan disebut penyekeban.

Pada hari ini adalah hari turunnya Sang Kala Tiga Wisesa, maka pada hari ini para wiku dan widnyana meningkatkan pengendalian diri (anyekung adnyana). Besoknya Soma Pon Dungulan disebut penyajaan pada hari ini tetap menguji keteguhan sebagai bukti kesungguhan melakukan peningkatan kesucian diri seperti yoga semadi. Selanjutnya Anggara Wage Dungulan disebut penampahan melakukan bhuta yadnya ring catur pate atau lebuh di halaman rumah, agar tidak diganggu Sang Kala Tiga Wisesa. Besoknya Buda Kliwon Dungulan disebut Hari Raya Galungan umat Hindu melakukan pemujaan kepada Tuhan dengan segala manifestasi-Nya. Wrespati Umanis Dungulan disebut Manis Galungan, umat saling kunjung-mengunjungi dan maaf-memaafkan. Selanjutnya Saniscara Pon Dungulan disebut pemaridan guru pada hari ini umat melaksanakan tirta gocara, Redite Wage Kuningan disebut ulihan kembalinya Dewa dan Pitara kekahyangan.

Selanjutnya Soma Kliwon Kuningan disebut Pemacekan Agung Dewa beserta pengiringnya kembali dan sampai ketempat masing-masing. Sukra Wage Kuningan disebut Penampahan Kuningan adalah persiapan untuk menyambut hari Raya Kuningan. Besoknya Saniscara Kliwon Kuningan hari Raya Kuningan, pada hari ini umat Hindu memuja Tuhan dengan segala manifestasinya. Upacara menghaturkan saji hendaknya.dilaksanakan jangan sampai lewat tengah hari, mengapa ? Karena pada tengah hari para Dewata diceritakan kembali ke swarga. Kemudian yang paling akhir dari rangkaian hari raya Galungan yaitu Buda Kliwon Pahang disebut pegat uwakan akhir dari pada melakukan peberatan Galungan sebagai pewarah Dewi Durga kepada Sri Jaya Kasunu ditandai dengan mencabut penjor kemudian dibakar, abunya dimasukkan kedalam bungkak gading ditanam di pekarangan.

Makna Hari Raya Galungan dan Kuningan

Dharma dan Adharma Pada hari raya suci Galungan dan Kuningan umat Hindu secara ritual dan spiritual melaksanakannya dengan suasana hati yang damai. Pada hakekatnya hari raya suci Galungan dan Kuningan yang telah mengumandang di masyarakat adalah kemenangan dharma melawan adharma. Artinya dalam konteks tersebut kita hendaknya mampu instrospeksi diri siapa sesungguhnya jati diri kita, manusia yang dikatakan dewa ya, manusa ya, bhuta ya itu akan selalu ada dalam dirinya. Bagaimana cara menemukan hakekat dirinya yang sejati?, "matutur ikang atma ri jatinya" (Sanghyang Atma sadar akan jati dirinya).

Hal ini hendaknya melalui proses pendakian spiritual menuju kesadaran yang sejati, seperti halnya hari Raya Galungan dan Kuningan dari hari pra hari H, hari H dan pasca hari H manusia bertahan dan tetap teguh dengan kesucian hati digoda oleh Sang Kala Tiga Wisesa, musuh dalam dirinya, di dalam upaya menegakkan dharma didalam dirinya maupun diluar dirinya. Sifat-sifat adharma (bhuta) didalam dirinya dan diluar dirinya disomya agar menjadi dharma (Dewa), sehingga dunia ini menjadi seimbang (jagadhita). Dharma dan adharma, itu dua kenyataan yang berbeda (rwa bhineda) yang selalu ada didunia, tapi hendaknyalah itu diseimbangkan sehingga evolusi didunia bisa berjalan.

Kemenangan dharma atas adharma yang telah dirayakan setiap Galungan dan Kuningan hendaknyalah diserap dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Dharma tidaklah hanya diwacanakan tapi dilaksanakan, dalam kitab Sarasamuccaya (Sloka 43) disebutkan keutamaan dharma bagi orang yang melaksanakannya yaitu :

"Kuneng sang hyang dharma, mahas midering sahana, ndatan umaku sira, tan hanenakunira, tan sapa juga si lawanikang naha-nahan, tatan pahi lawan anak ning stri lanji, ikang tankinawruhan bapanya, rupaning tan hana umaku yanak, tan hana inakunya bapa, ri wetnyan durlaba ikang wenang mulahakena dharma kalinganika".

Artinya:
Adapun dharma itu, menyelusup dan mengelilingi seluruh yang ada, tidak ada yang mengakui, pun tidak ada yang diakuinya, serta tidak ada yang menegur atau terikat dengan sesuatu apapun, tidak ada bedanya dengan anak seorang perempuan tuna susila, yang tidak dikenal siapa bapaknya, rupa-rupanya tidak ada yang mengakui anak akan dia, pun tidak ada yang diakui bapa olehnya, perumpamaan ini diambil sebab sesungguhnya sangat sukar untuk dapat mengetahui dan melaksanakan dharma itu.

Di samping itu pula dharma sangatlah utama dan rahasia, hendaknyalah ia dicari dengan ketulusan hati secara terus-menerus. Sarasamuccaya (sloka 564) menyebutkan :

"Lawan ta waneh, atyanta ring gahana keta sanghyang dharma ngaranira, paramasuksma, tan pahi lawan tapakning iwak ring wwai, ndan pinet juga sire de sang pandita, kelan upasama pagwan kotsahan".

Artinya:

Lagi pula terlampau amat mulia dharma itu, amat rahasia pula, tidak bedanya dengan jejak ikan didalam air, namun dituntut juga oleh sang pandita dengan ketenangan, kesabaran, keteguhan hati terus diusahakan.

Demikianlah keutamaan dharma hendaknyalah diketahui, dipahami kemudian dilaksanakan sehingga menemukan siapa sesungguhnya jati diri kita. (WHD No. 436 Juni 2003).

(sumber : http://www.parisada.org/)


RECENT POSTS

VIEWERS

TOP POSTS

 
readbud - get paid to read and rate articles

.:Mencari Penghasilan Tambahan di Internet:. Copyright © 2010 LKart Theme is Designed by Lasantha